Menurut Mamphionona, seorang tokoh adat, dalam masyarakat ini hanya terdapat dua kelas, yakni yang hidup dan para leluhur. Sehingga, jenazah yang belum pernah digali sebelumnya tidak dianggap sebagai bagian dari kelompok yang hidup maupun sebagai leluhur.

Sejarawan Andrianahaga Mahery mengatakan proses Famidihana dimulai ketika arwah leluhur muncul dalam mimpi anggota keluarga senior. Mereka meminta pakaian baru karena merasa kedinginan.

"Leluhur muncul dalam mimpi dan mengatakan bahwa dia kedinginan dan membutuhkan pakaian baru," jelas Mahery.

Makam suku Merina biasanya terdiri dari ruang bawah tanah dengan rak penyimpanan dimana jenazah diselimuti kain sutra. Perayaan ini berakhir sebelum malam karena takut akan adanya energi negatif dan kekuatan jahat pada malam itu.

"Tulang-tulang itu dikembalikan ke makam sebelum matahari terbenam karena matahari adalah sumber energi kita," jelas Mamphionona.