Ketua Umum FINI, Arif Perdana Kusuma, menyebut total kebutuhan bijih tahun ini dapat mencapai 340 hingga 350 juta ton. Jika produksi nasional hanya sekitar 250 juta ton, maka terdapat celah pasokan yang cukup lebar.

Baca Juga: PT Vale Perlihatkan Praktik Tambang Berkelanjutan di Morowali pada Aparat Desa dan Kecamatan

“FINI memprediksi bahwa impor bijih nikel sebagai mekanisme penyeimbangan utama. Diperkirakan impor berpotensi meningkat hingga ~50 juta ton basah (wmt); di mana ?30 juta ton basah [wmt] berasal dari Filipina, sisanya dari tempat lain,” kata Arif.

Ia menambahkan sebagian besar impor diproyeksikan berasal dari Filipina, yang selama ini menjadi pemasok utama bijih nikel bagi industri dalam negeri. Sekitar 80 persen arus masuk tercatat melalui pelabuhan di Maluku Utara, sementara sisanya tersebar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Sejumlah lokasi tambang dan smelter tetap beroperasi mengikuti kuota baru. Aktivitas penambangan, seperti yang terlihat di fasilitas Harita Nickel di Pulau Obi serta proses peleburan matte di smelter PT Vale Indonesia di Sorowako, berjalan dengan penyesuaian volume produksi. (C)