"Bayangkan bola ini diluncurkan dari lander Bulan, berguling ke dinding kawah untuk memetakan area yang sebelumnya tak tergapai," kata Ambrose dalam konferensi pers.
RoboBall menggunakan sistem pendulum internal untuk menggerakkan dirinya, memastikan kestabilan saat berguling di medan kasar.
Prototipe RoboBall II, yang lebih kecil dengan diameter 60 cm, telah diuji untuk kecepatan dan kontrol, sementara versi raksasa RoboBall III dirancang membawa muatan modular seperti sensor, kamera, dan alat sampling tanah.
Melansir Sindonews, Sabtu (13/9/2025), pengujian lapangan akan dilakukan di pantai Galveston, Texas, untuk mensimulasikan kondisi ekstrem.
Selain misi luar angkasa, RoboBall juga memiliki aplikasi darurat di Bumi. Mahasiswa pascasarjana Rishi Jangale dan Derek Pravecek, yang turut mengoptimalkan desain robot ini, membayangkan armada RoboBall diterjunkan setelah bencana alam seperti badai atau gempa bumi.
