“Pasien yang sudah terdaftar dalam sistem secara otomatis akan masuk ke dalam data, sehingga ketika tiba di rumah sakit, mereka hanya perlu menjalani proses lanjutan hingga bertemu dengan dokter atau poli yang dituju,” jelas Iqbal.

Penerapan sistem antrean online ini, menurut Iqbal, menciptakan keteraturan dalam pelayanan kepada pasien. Namun, diakuinya terdapat beberapa kendala dalam penerapan, terutama bagi pasien yang tidak memiliki HP Android.

“Untuk mengatasi masalah ini, pihak RS membantu pasien mendaftar melalui keluarga yang memiliki HP Android. Dan, petugas RS juga memberikan edukasi kepada pasien atau keluarga pasien agar ke depannya bisa menggunakan antrian online secara mandiri,” bebernya.

Selain masalah teknis, ada juga tantangan dalam hal sosialisasi sistem kepada pasien. Beberapa pasien merasa proses ini terlalu rumit dan lebih memilih cara konvensional.

Namun, rumah sakit tetap berkomitmen untuk memberikan edukasi melalui Duta Mobile JKN, sebuah inisiatif khusus yang bertugas membantu pasien memahami cara penggunaan sistem antrean online.