Totalitas pada pekerjaannya, membuat Mbah Yem tetap setia hingga kini sebagai buruh gendong. Tak berubah sama sekali. Sementara, Pasar Beringharjo sudah berganti bentuk beberapa kali.
Mbah Yem tetap seperti Mbah Yem yang dulu: seorang buruh gendong Pasar Beringharjo. Meski pengelola pasar memintanya untuk di rumah saja dan memberi santunan Rp 1,5 juta, tapi ia tidak mau.
Kesetiaannya pada profesi buruh gendong sudah mendarah daging dan tak bisa ditinggalkan. "Menawi teng griya kemawon awak kula malah sakit, Mas." (Apabila cuma di rumah saja badan saya malah sakit).
Tersirat di wajahnya semangat yang tak mudah padam. Dan sosoknya sebagai superhero itu secara tidak langsung memberi semangat pada masyarakat agar terus kuat menghadapi segala persoalan sulit di tengah pandemi COVID-19.
Digitalisasi dagangan pasar adalah solusi agar Mbah Yem tetap bisa bekerja dengan tetap menaati protokol kesehatan di pasar tradisional.
