JAKARTA, TELISIK.ID - Tekanan terhadap rupiah kian terasa setelah nilai tukar mata uang Indonesia menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang membebani pasar keuangan.

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Berdasarkan data pasar spot, rupiah tercatat berada di level Rp 18.015 per dolar AS atau melemah 0,42 persen.

Pergerakan tersebut menandai pelemahan yang cukup signifikan dalam waktu relatif singkat. Pada 6 April 2026, rupiah untuk pertama kalinya ditutup di atas level Rp 17.000 per dolar AS. Dalam kurun waktu kurang dari dua bulan, mata uang Garuda telah kehilangan sekitar Rp 1.000 terhadap dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta sejumlah faktor domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi tersebut membuat investor terus mencermati perkembangan ekonomi dan kebijakan yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan nasional.

Penguatan Dolar AS akibat Ketegangan Geopolitik