Melansir dari CNBC Indonesia, Jumat (5/6/2026), faktor pertama yang memberi tekanan terhadap rupiah berasal dari penguatan dolar AS. Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk mendorong investor global memburu aset safe haven, termasuk dolar AS.

Konflik yang melibatkan Iran, Kuwait, serta respons militer Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Situasi tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Rebalancing MSCI dan Arus Keluar Dana Asing

Pasar juga dipengaruhi oleh penyesuaian indeks yang dilakukan MSCI pada Mei 2026. Sebanyak enam saham Indonesia keluar dari MSCI Global Standard Index dan 13 saham lainnya dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index.

Perubahan komposisi tersebut memicu penyesuaian portofolio oleh sejumlah investor global. Arus keluar dana asing yang terjadi kemudian meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.