Budi Frensidy memproyeksikan yield SBN 10 tahun bergerak di kisaran 7,15 persen hingga 7,55 persen sampai akhir 2026, bahkan berpotensi mendekati 7,8 persen apabila tekanan global memburuk. Ia juga mengingatkan risiko aliran dana asing keluar dari pasar utang sebesar Rp10 triliun hingga Rp30 triliun menjelang akhir tahun.
Tekanan Global Ikut Menekan
Pelemahan rupiah juga diperparah sentimen global. Data inflasi Amerika Serikat yang dirilis Kamis (15/10) mencatat CPI September sebesar 3,7 persen secara tahunan, di atas ekspektasi pasar 3,6 persen. Angka ini memicu penguatan dolar AS.
Indeks Dolar AS (DXY) sempat naik ke level tertinggi sejak Mei 2025. Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun naik 12 basis poin ke 4,90 persen, membuat selisih imbal hasil dengan aset negara berkembang semakin tipis.
Harga minyak dunia pun bertahan di atas US$105 per barel di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, menambah beban bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
