“Selalu masyarakat bergotong royong ketika ada kayu yang sudah roboh atau tiang-tiang yang sudah tumbang,” tambahnya.
Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Wakatobi segera mengambil langkah konkret karena kerusakan jembatan tidak hanya berdampak pada ekonomi warga, tetapi juga aktivitas pendidikan anak-anak.
“Bila pemerintah kabupaten membiarkan masalah ini berlarut-larut maka masyarakat bukan hanya dirugikan secara ekonomi tapi secara pendidikan juga. Anak-anak akan terganggu sebab jalan itu menjadi akses alternatif bagi para anak sekolah untuk menuju ke sekolahnya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Horuo, Bambang Muliadi, membenarkan bahwa jembatan di kawasan permukiman Bajo tersebut telah lama mengalami kerusakan.
“Jembatannya rusak dari tahun 2014 dan kerusakannya tentu karena sudah lama tidak pernah diperbaiki atau direhab,” katanya kepada telisik.id.
