Salah satu penumpang, Aswad memilih membatalkan perjalanannya menuju Pelabuhan Raha. Ketika kejadian, ia berada di ruang dek paling bawah. Mulanya ia mengetahui saat melihat sejumlah anak buah kapal (ABK) sedang memperbaiki mesin.

"Berhubung saya ada di dek satu, terhubung langsung sama mesin paling bawah itu kelihatan dari atas. Kebetulan di jam itu saya belum tidur," katanya ditemui di dermaga.

Menurut Aswad, setelah pihak kapal mengumumkan adanya masalah pada mesin, sebagian penumpang terlihat merasa panik dan saling berebut mengambil baju pelampung.

Baca Juga: Kolaborasi Mahasiswa KKN MBKM UHO dan Pemdes Tapulaga Tanam Manggrove

"Kencang ombak kemudian listriknya mati, jadi menarik perhatian penumpang sehingga terbangun. Sebagian besar penumpang panik, terlebih lagi banyak ibu-ibu yang sudah mengamankan pelampung jumlahnya terbatas membuat kondisi semakin riuh," ucapnya.