Baca Juga: Agar Persaudaraan dan Kegotongroyongan Tidak Cuma Seremoni Belaka

Bahkan tak heran jika ada yang mengatakan bahwa  sejatinya ada tiga ruang dalam hukum, yaitu Ruang Terbuka di kampus dgn segala teori dan pembahasannya, kemudian ruang Semi Terbuka di sistem peradilan. Dan terakhir ruang Tertutup di lobi-lobi politik itulah realitas.

Melihat makin meluasnya penyimpangan yang dilakukan oleh penguasa melalui berbagai instrumen yang ada di bawah kendalinya bahkan sudah dapat di kategorikan dalam tindakan Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM) dalam Upaya mereka memenangkan kontestasi utamanya dalam Pilpres di 2024 ini, maka mutlak dibutuhkan kelompok penekan yang masih rasional untuk mengembalikan Demokrasi sebagaimana mestinya. Kelompok penekan ini perlu segera melakukan aksinya, baik itu kelompok Penekan yang ekslusif maupun kelompok penekan yang parsial, dan itu ada dalam diri kaum intelektual organik

Untuk melakukan upaya penyadaran terhadap rakyat, bagaimana posisi penting rakyat pagi para elit politik saat kontestasi politik adalah bagaimana kaum intelektual organik melakukan edukasi yang tidak hanya di sosial media, seperti memposting gambar, membuat narasi dan menulis  komentar di Instagram, Twitter, Tiktok, FB dsbnya, tapi juga harus hadir di dunia nyata, untuk kita melakukan konsolidasi rakyat pro demokrasi dan kita bertemu dan bertatap muka untuk melihat dan berbicara tentang realitas sosial politik dan ekonomi yang terjadi saat ini”.

Penulis tertarik dengan prinsip - prinsip yang dikemukakan oleh  Y.C.Yen seorang Tokoh Gerakan Pembangunan Masyarakat di China pada tahun 1920, agar Birokrasi  tidak hanya sebagai “Service Provider”, tapi menjadi “Enabler”, yaitu: