Limbah garmen sulit sekali untuk diolah. Meskipun bisa, kata Ghina, butuh biaya mahal dan kurang ekonomis. Selain itu baju-baju yang diimpor biasanya berasal dari negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa untuk kegiatan charity yang tidak laku dijual di negara asalnya, sehingga dikirim ke negara-negara berkembang.
Ghina mengatakan, menerima impor baju bekas sama dengan menerima limbah dari negara lain. Meskipun ia setuju dengan kebijakan pemerintah melarang impor baju bekas, namun menurutnya kurang masuk akal jika pemerintah beralasan baju bekas impor mengandung jamur dan virus yang membahayakan kesehatan.
Jamur yang menempel di baju bekas dapat dihilangkan secara sederhana hanya dengan mencucinya hingga bersih dan dijemur hingga benar-benar kering.
Pedagang baju bekas, khususnya di Kota Kendari saat ini sudah tak memasok stok baru dagangannya, hal ini karena stok baju bekas sudah disetop dari penyuplainya di Surabaya.
Salah seorang pedagang di Jalan Taman Suropati, Hafidz tak bisa berbuat apa-apa lagi dengan kebijakan tersebut. Padahal ia sendiri masih harus membayar utang modalnya kepada sang penyuplai.
