Dari segi jamak takdim dan jamak ta`khir, ulama Malikiyyah dan Syafi’iyyah membolehkan jamak taqdim saja, tidak membolehkan jamak ta`khir.
Sedang ulama Hanabilah membolehkan jamak takdim dan juga jamak ta`khir. (Qadhi Shafad, Rahmatul Ummah fi Ikhtilaf Al A`immah, hlm. 56-57, Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, Juz 15 hlm. 289-290; Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/505).
Menurut ulama Malikiyyah dan Syafi’iyyah, juga menurut satu pendapat di kalangan ulama Hanabilah, kebolehan menjamak salat karena hujan hanya khusus bagi mereka yang salat jamaah di masjid. Jadi tidak boleh menjamak salat bagi mereka yang salat sendirian (munfarid) atau salat jamaah di rumah.
Sedang menurut pendapat yang lebih rajih (al arjah) di kalangan ulama Hanabilah, menjamak salat karena hujan secara umum boleh bagi mereka baik yang salat jamaah di masjid maupun yang salat sendirian di rumah. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, Juz 15 hlm. 291).
Setelah mengkaji dalil-dalilnya, menurut kami, yang rajih adalah pendapat jumhur ulama yang membolehkan menjamak salat karena hujan. Dalilnya antara lain hadits Ash Shahihain dari Ibnu Abbas RA bahwasanya, "Rasululullah SAW telah mengimami salat bersama kami di Madinah menjamak Salat Zuhur dan Asar semuanya, dan Salat Magrib dan Isya semuanya.” Imam Muslim menambahkan,”(salat jamak itu dilakukan) tanpa alasan adanya ketakutan atau alasan dalam perjalanan.” (HR Bukhari & Muslim)
