“Ditutup ruang geraknya bukan juga berarti dihancurkan setidaknya kita bisa mengingkari dengan semampunya, mislanya dengan tidak mengundang mereka diacara hiburan serta kegiatan kemasyarakatan," paparnya.
Dia juga minta kepada pemerintah untuk menekan angka LGBT ini mulai dari daerah, misalnya tidak mudah memberikan izin kegiatan kepada meraka.
"Seperti yang pernah terjadi pada tahun sebelumnya, pada tanggal 17 Agustus HUT RI biasanya ada lomba voly "bencong". Kegiatannya cukup ramai dan ini dianggap sebagai hiburan, akhirnya mereka persiapkan diri tiap tahunnya sehingga mereka membuat bibit-bibit baru dari LGBT. Ini tentu sudah menjadi perhatian pemerintah untuk tidak dibiarkan begitu saja, harus ada penekanan agar perkembangannya turun pada tiap tahunnya," ungkapnya.
Sementara itu Nur Haerani Haeba psikologi mengatakan, tiga persen dari penduduk Indonesia sudah terpapar LGBT. Hal ini terjadi karena kurangnya kepedulian terhadap bahayanya.
Ungkap dia, dari keempat golongan itu, paling banyak didominasi oleh homoseksual. LGBT terbagi dari dua jenis ada yang permanen dan bisa berubah.
