“Maka sesungguhnya kita mempertanyakan kepemimpinan Boris Johnson dan Donald Trump yang satu menggaungkan brexit yang satu lagi make America Great Again. Pemimpin populis yang biasa ditemukan di tengah masyarakat yang mengagung-agungkan kejayaan masa silam sebuah Ironi yang terjadi di Inggris dan Amerika,” pungkasnya.

Sementara di sisi lain, paham lain ekstrem kanan juga memanfaatkan internet untuk tumbuh kembangnya pemimpin populis seperti di Brazil yang kental dengan sejarah diktator militer Presiden, Jair Bolsonaro.

“Bolsonaro terus menggalang dukungan publik untuk tetap membuka ekonomi Brazil, hasilnya Brazil berhasil menjadi kampiun COVID-19 dengan jumlah warga terpapar paling banyak di dunia,” tukasnya.

Katanya, pemimpin-pemimpin populisme tersebut hanya mampu menghiasi mimpi-mimpi indah rakyat tentang kebesaran keagungan kebangkitan sebuah negara tapi ternyata sulit menghadapi masalah yang ada di depan mata dalam situasi kondisi pandemi.

“Negara dan rakyat harus cepat bangun dari mimpi beradaptasi dengan tantangan yang dihadapi bukan malah menciptakan kekacauan tanpa ujung yang menciptakan ketidakpastian, kolaborasi menjadi kata kunci antara rakyat dan negara dan juga negara dengan negara lainnya,” tutupnya.