Kita tentu belum lupa pada Piala Dunia FIFA 1994, ketika lapangan hijau Amerika menjadi saksi runtuhnya batas antara olahraga dan realitas kelam dunia luar. Gol bunuh diri bek Kolombia, Andrés Escobar, yang berujung pada eksekusi mati dirinya saat kembali ke tanah airnya, membuka mata dunia bahwa sepak bola tidak pernah steril dari pusaran konflik sosial dan kartel kekuasaan.

Jika pada 1994 tanah Amerika menyajikan tragedi berdarah akibat benturan sepak bola dan realitas sosial, maka pada 2026 mereka mempertontonkan pertunjukan telanjang bagaimana hukum sepak bola bisa ditekuk oleh syahwat politik adidaya.

Sterilitas Olahraga dan Politik

Sepanjang hidupnya, Soekarno adalah penentang paling keras doktrin Barat yang menyatakan bahwa olahraga harus steril dari politik. Ketika Indonesia diskors oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) karena menolak kedatangan Israel dan Taiwan pada Asian Games 1962 di Jakarta, Soekarno tidak tunduk. Sebaliknya, ia dengan lantang meluncurkan kritik ‘kenabian’ yang menghantam jantung institusi olahraga global.

Dalam pidatona di hadapan para delegasi GANEFO (Games of the New Emerging Forces) pada tahun 1963, Soekarno dengan lantang menyatakan: "Sekarang mari kita bertindak secara jujur. Mari kita katakan bahwa olahraga ada hubungannya dengan politik! Indonesia mengusulkan agar olahraga dikaitkan dengan politik secara terbuka. Ini adalah pengalaman manusia, ini adalah realitas kehidupan."