Kini, di negeri tembok berlin, Sadaat, memilih menjadi kurir, pengantar makanan, atau pesanan lainnya. Bekerja selama enam jam di hari kerja. Mengayuh sejauh 1.200 kilometer setiap bulannya.
Sadaat tidak malu melakukannya. Ia mafhum setiap pilihan sikap ada konsekuensinya. Ia tidak sedikitpun menyesali pilihan sikapnya.
"Tidak perlu malu melakukannya. Kerja ya kerja. Jika terdapat pekerjaan, maka ada permintaan. Seseorang harus melakukannya," kata Sadaat dilansir dari Kompas.com.
Kehidupan ini seperti sepeda, untuk menjaga keseimbangan, seseorang mesti terus mengayuh. Manusia perlu menjemput rezeki dengan ikhtiar bukan?
Baca juga: Sarah Salleh: Kiprahnya di Tengah Status Calon Ratu Brunei Darussalam
