Makanan yang sudah sudah masak, disajikan dalam ritual kesyukuran dengan mengucapkan mantra-mantra yang biasa disebut ritual, setelah itu makan bersama yang dipisahkan antara raja, ata (budak), sangkina (yang melayani) dan orang tua yang ditokohkan.

Sisa hasil panen yang dikumpul di rumah raja tersebut akan dibagikan sesuai dengan tingkat ekonominya. Dengan berkembangnya zaman, maka syukuran ini menjadi adat Moronene.

Mulai dari membuka lahan perkebunan, sampai kepada panen, syukuran dari keberhasilan panen tersebut disebut dengan kata Mewusoi (kelompok kecil) dan Mewuwusoi (kelompok besar satu kampung).

Setelah itu semua kelompok anggota tani tau sawi (pengikut/pendamping) melalui pawang pada (tumpukoo) melakukan ritual atau doa keselamatan bersama-sama yang disebut metotamai (mengobati diri) selama proses panen.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara, Murniati, berharap pemerintah bisa mensupport kabupaten/kota, sehingga warisan kebudayaan di Sulawesi Tenggara terus berkembang.