Menurut Agung, sekitar 40 persen wilayah Sulawesi Tenggara merupakan lautan. Kondisi geografis tersebut membuat perahu memiliki peran penting dalam menghubungkan wilayah pesisir dan pulau-pulau di daerah ini.
Perahu tradisional masyarakat setempat umumnya dibuat menggunakan kayu jati yang banyak ditemukan di Sulawesi Tenggara. Pengoperasiannya mengandalkan layar dan galah bambu.
“Layar digunakan saat berlayar di tengah laut atau melintasi pulau. Galah digunakan di pesisir, di pinggir-pinggir pantai,” kata Agung.
Perahu layar berukuran kecil digunakan untuk perjalanan antarpulau, seperti Kendari menuju Pulau Muna, Muna ke Pulau Buton, hingga Buton ke Wakatobi. Selain mengangkut hasil pertanian, perahu tersebut dimanfaatkan nelayan untuk menangkap ikan.
Agung mengatakan bentuk perahu masyarakat Tolaki memiliki kemiripan dengan perahu masyarakat Bajo. Namun, terdapat perbedaan pada penggunaannya. Perahu Bajo yang dimaksud tidak menggunakan layar karena aktivitas pelayarannya lebih banyak berlangsung di kawasan pesisir.
