Jejak penggunaan perahu oleh leluhur Tolaki bahkan diperkirakan telah ada sejak masa prasejarah. Salah satu petunjuknya terlihat pada lukisan sampan di dinding gua kuno atau Kumapo di wilayah Konawe bagian utara.
Pada masa itu, perahu dibuat dari batang pohon utuh yang bagian tengahnya dikeruk hingga membentuk ruang untuk penumpang. Bentuk tersebut dikenal sebagai perahu lesung. Seiring perkembangan keterampilan masyarakat, bahan dan teknik pembuatannya berubah dengan menggunakan bilah-bilah papan kayu yang dirakit tanpa paku logam.
Sementara itu, kehidupan masyarakat Tolaki di wilayah Konawe memiliki keterkaitan erat dengan kawasan lembah dan aliran sungai besar, terutama Sungai Konaweha dan Sungai Lasolo. Berbeda dengan masyarakat yang mengandalkan pelayaran laut lepas, sungai menjadi salah satu jalur utama mobilitas penduduk dan distribusi hasil pertanian.
Kondisi tersebut menjadikan pincara sebagai alat transportasi penting. Sarana penyeberangan ini banyak digunakan di wilayah Konawe dan Konawe Selatan, khususnya pada kawasan yang dilalui aliran sungai besar.
Pincara tradisional dibuat dengan menyatukan dua perahu kayu yang dipasang sejajar. Bagian atasnya kemudian diberi lantai dari bambu atau papan yang diikat kuat. Konstruksi tersebut membuatnya lebih stabil ketika membawa penumpang dan barang melintasi sungai.
