Sebelum menggunakan mesin, pincara digerakkan dengan dayung panjang, galah atau kandai, maupun ditarik menggunakan tali rotan yang dibentangkan di antara kedua tebing sungai.

Pada masa lalu, fungsinya tidak sebatas mengangkut penumpang. Pincara juga digunakan untuk membawa hasil panen dan hewan ternak, termasuk kerbau yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial masyarakat Tolaki.

Keberadaan pincara turut menghubungkan antarkampung atau wonua yang dipisahkan aliran sungai. Sarana ini menjadi alternatif transportasi ketika akses jalan darat masih terbatas.

“Dulu belum ada jalan raya seperti sekarang, jadi mereka menggunakan sungai. Seperti Sungai Lasolo, itu jalur mereka membawa hasil panen ke laut atau pelabuhan,” ujar Agung.

Permukiman masyarakat Tolaki pada masa itu banyak berkembang di sekitar tepian sungai. Selain memudahkan akses terhadap sumber air, lokasi tersebut memungkinkan penduduk memanfaatkan aliran sungai untuk mengangkut kebutuhan sehari-hari dan hasil pertanian.