Penggunaan perahu dan pincara diperkirakan telah berlangsung sejak masa keberadaan suku Tolaki pada abad ke-10 dan Tolaki Mekongga pada abad ke-12.

Meski demikian, Agung menjelaskan benda yang dipamerkan Museum Sulawesi Tenggara bukanlah perahu dan pincara asli, melainkan miniatur yang dibuat untuk menggambarkan bentuk kedua alat transportasi tersebut.

Miniatur perahu diperoleh dari pengrajin di Konawe Selatan sekitar 2005. Sementara itu, miniatur pincara didapatkan dari wilayah Sampara, Kabupaten Konawe.

Menurut Agung, pincara merupakan salah satu alat transportasi khas masyarakat Tolaki yang memiliki nilai sejarah. Keberadaannya berkaitan dengan perkembangan mobilitas penduduk, hubungan antarkampung, serta aktivitas perekonomian masyarakat di sepanjang sungai.

Melalui koleksi miniatur tersebut, Museum Sulawesi Tenggara memperlihatkan dua jalur kehidupan masyarakat masa lalu, yakni laut yang menghubungkan antarpulau dan sungai yang menjadi penghubung permukiman serta pusat aktivitas ekonomi.