"Tiap hari saya tarik pakai centong. Tapi yang keluar lumpur, bukan garam. Saya sangat sedih dengan kondisi ini. Mau menangis ke siapa. Pemerintah pun seakan tak peduli, mereka hanya peduli petani sorgum melulu," ujar Indra.
Banjir rob yang terjadi, kata dia, merusak semua sistem perairan garam hingga rentan cair, sehingga panen tahun ini gagal total.
Lebih lanjut ia mengaku, hasil panen tahun ini sangat tidak sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya.
Pada tahun sebelumnya, sebut dia, lahan garam yang ia garap bisa menghasilkan 700 sampai 800 karung sekali panen. Tetapi sekarang turun drastis ke 100 karung. Bahkan ada petani lain yang menghasilkan 10 sampai 15 karung saja.
"Sedih sekali. Mau menangis dengan siapa. Tumpuan hidup kami hanya berharap pada hasil garam ini," ujarnya lagi.
