Dengan demikian, misalnya, karena keahliannya dan sumpahnya, dokter untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya, tidak bisa dan tidak boleh digantikan oleh penyandang profesi lainnya --yang mirip-mirip sekalipun--, seperti perawat atau bidan.
Tentara juga tidak boleh digantikan oleh polisi; arsitek oleh pengacara; pengacara oleh notaris; notaris oleh penulis; penulis oleh jurnalis atau sebaliknya dan seterusnya.
Empirik saja, dulu ketika mulai masuk ke dalam profesi yang saya sandang dan tekuni hingga saat ini, saya belum bisa membedakan sesuatu antara yang sekadar pekerjaan dan profesi. Suatu ketika pernah pindah pekerjaan yang jauh lebih menjamin untuk menjadi mapan. Tetapi, tak lama kemudian, kembali ke pekerjaan semula.
Itulah saat mulai berada dalam aktivitas yang saya geluti hingga kini dan saya rasakan ini bukan sekadar pekerjaan, tapi profesi. Berbagai kepahitan dialami karena berbagai alasan termasuk kondisi pribadi yang lebih banyak disebabkan oleh masalah keuangan, lingkungan sosial, maupun “sikap memusuhi” dari eksternal. Toh saya bahagia menjalaninya. Seolah-olah ada yang terus memanggil-panggil untuk tetap terus bergelimang di dalamnya. ‘Involve!’
Dengan uraian tersebut, saya tidak ingin memonopoli arti dan makna profesi. Bagaimana kalau sampai dipertanyakan sudah profesionalkah?
