Gotong-royong? Ya gotong-royong itu sejalankan dengan silaturahim.

Budaya gotong-royong kita tertebar pada setiap suku di belasan ribu pulau negeri. Jangan biarkan budaya individualis yang nyata-nyata materi semata merambah masuk mendompleng memusnahkan gotong-royong milik kita.

Kita tidak bodoh, apalagi konyol, tapi mungkin saja terperdaya. Mungkin pula mau dihina-bobokkan, asalkan terpenuhi selera. Padahal, semua sama dihadapan-Nya. Cuma seonggok daging yang bernurani, serta diberi kesempatan bernafas dan berpikir untuk berbuat baik bagi sesama.

Adalah pasti, Tuhan agama apa pun memerintahkan untuk mengutamakan keluarga sendiri. Tapi, Tuhan agama apa pun, juga tidak pernah memerintahkan “utamakan keluarga sendiri, abaikan orang lain.” Jebakkanlah diri dalam egoisme bangsa dan kemanusiaan.

Kebaikan dan keadilan bukan untuk diomong-omong belaka. Demikian pula dengan tekad berantas perilaku maling. Realitas menuntut satunya kata yang baik dengan perbuatan dan karya nyata. Waktu bukan alasan, tapi perbuatan nyata!