Situasi politik ke depan pasca pemungutan suara juga disinyalir jadi pertimbangan Jokowi. PAN memungkinkan terdepak di Senayan, sedangkan Golkar masih memungkinkan meski memperoleh peringkat paling buruk sekalipun tetap Golkar akan masuk lima besar.
Hal utama penilaian subjektif dari personal Jokowi, diperkirakan Jokowi berkalkulasi jika keluar dari PDIP, ia harus tetap berkiprah di partai besar, jika kiprah dirinya tak ingin surut oleh waktu. Dengan menjadi kader di Golkar, maka Jokowi juga tetap diperhitungkan dalam kancah politik nasional pasca tak lagi menjadi Presiden.
Jokowi juga diyakini lebih memilih Golkar, karena sistem pengelolaan partainya bukan personalistik seperti di PDIP atas nama trah Soekarno. Meski Golkar penuh dinamika politik karena di dalamnya ada banyak faksi, tetapi Jokowi yang sudah permah menjabat sebagai Presiden dua periode, tentu akan diperhitungkan seperti kehadirannya, perannya, dan pemikirannya, dan memungkinkan Jokowi diperhitungkan sebagai Ketua Umum Golkar.
Peluang Jokowi sebagai ketua umum Golkar terbuka lebar, isu ini juga dikuatkan oleh Golkar untuk memikat Jokowi. Jika saat ini dibandingkan lawan-lawan politik Jokowi di Golkar misalnya, personal diri kader-kader lama Golkar juga belum terlalu besar pengaruh mereka secara politik, dibandingkan Jokowi yang pernah dua periode memimpin sebagai Presiden, meski begitu dengan catatan jika faksi-faksi berhasil dipengaruhi oleh Jokowi untuk mengusungnya.
Gerindra Berjuang Merebut Posisi Pertama
