Jika mencermati situasi pasca hubungan buruk antara Jokowi dengan PDIP. Jokowi secara personal masih seimbang antara disukai dan dibenci oleh masyarakat. Jokowi juga tak bisa diabaikan, ia masih memiliki magnet bagi pemilih utamanya yang loyal terhadap sosok dirinya. Sehingga fakta ini turut menguatkan elektabilitas PDIP selama dua periode ini.

Ketika terjadi konflik terbuka antara Jokowi dengan PDIP, konsekuensinya Jokowi mulai dipinggirkan oleh PDIP. PDIP juga mengalami situasi yang meresahkan hati dan pikiran mereka. PDIP dengan Gerindra saat ini bersaing ketat. Tak sekadar narasi tetapi beberapa hasil survei telah juga menunjukkan Gerindra dapat merebut posisi puncak, sedangkan PDIP tepat dibelakangnya.  

Upaya yang sedang dilakukan oleh Gerindra tak bisa diabaikan. Tahun ini adalah peluang besar Gerindra menyalip PDIP. Fakta elektabilitas posisi Pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Prabowo dan Gibran berada di posisi puncak, sedangkan Ganjar kader dan capres yang diusung PDIP antara posisi kedua dan lebih banyak dari berbagai hasil survei di posisi ketiga.  

Kondisi lainnya, pasca Jokowi dan PDIP “konflik terbuka.” Ceruk pemilih loyal Jokowi, terbuka beralih ke partai nasionalis lainnya. Inilah yang berusaha direbut oleh Gerindra, PSI, PAN, dan Golkar. Fakta selanjutnya, pasca dua periode PDIP memimpin, telah mulai dikritisi oleh masyarakat dengan persepsi akan kejenuhan, bukan tak mungkin masyarakat sebagai pemilih mulai berpikir pindah dukungan partai, situasi ini juga didukung PDIP tidak solid dalam satu rampak barisan.  

Sehingga memungkinkan, PDIP tak bisa lagi jumawa malah semestinya patut hati-hati. Posisi peringkat partai sebagai pemenang, di Pemilu 2024 ini memungkinkan berhasil direbut oleh Gerindra, sedangkan partai lain memungkinkan juga mendapatkan berkah limpahan dukungan pemilih loyal Jokowi.