Sebelumnya, Novi bekerja di industri garmen. Dia terkena pemutusan hubungan kerja pada awal pandemi COVID-19 yang memaksanya mencari pekerjaan baru.

“Kami di sini berlima. Kalau yang empat sudah lama di sini, sedangkan saya baru dua tahun lebih. Kami hanya melayani pembeli karena yang punya dagangan orang China dan semuanya khusus roti yang dijual,” kata Novi.

Ada enam meja yang dipakai Novi dan rekan-rekannya untuk menaruh dagangan rotinya. Roti dengan aneka isi dan rasa dipajang di kotak berbahan aluminium dan keranjang plastik. Novi mengaku setiap hari mereka menjual sampai 3.000 bungkus roti. Satu bungkus roti dihargai minimalnya Rp 5.000.  

“Setiap hari selalu laris dan paling banyak pembeli dari kantoran dan pedagang yang akan menjual lagi. Kalau pedagang yang mau jualan lagi kami biasanya kurangi sedikit harganya,” ujar Novi.

Soal omzet penjualan setiap malam, Novi mengaku antara Rp 7-9 juta. “Kalau lagi baik bisa sampai Rp 10 juta,” akunya.