Namun, pada tahun 2006, ia memutuskan untuk maju dalam Pilkada Banten sebagai calon wakil gubernur mendampingi Zulkieflimansyah. Keputusan tersebut mengantarkannya pada situasi pelik yang membuatnya harus keluar dari PDIP, seperti dilansir dari Wikipedia.

Langkah Marissa di dunia politik tak terhenti begitu saja. Setelah keluar dari PDIP, ia bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 2007. Bersama suaminya, Ikang Fawzi, Marissa aktif dalam berbagai kegiatan politik yang diinisiasi oleh PPP.

Meski demikian, perjalanan politiknya tak selalu mulus. Pada tahun 2012, Marissa memutuskan untuk hengkang dari PPP dan bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN), mengikuti jejak suaminya yang lebih dulu bergabung dengan partai tersebut.

Kiprah Marissa di dunia politik memang penuh dengan dinamika. Meskipun banyak mengalami tantangan, ia tetap gigih dalam memperjuangkan apa yang diyakininya. Salah satu alasan utama Marissa pindah partai adalah karena prinsip.

Ia ingin berada di partai yang sejalan dengan nilai-nilainya, dan pada akhirnya, ia memilih PAN sebagai tempatnya berlabuh. Dalam PAN, Marissa terus aktif berkontribusi hingga akhir hayatnya.