JAKARTA, TELISIK.ID - Fenomena pengguna yang menjadikan ChatGPT sebagai tempat curhat kini mulai menarik perhatian banyak pihak, termasuk para peneliti dan ahli kesehatan mental.

Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan ini awalnya ditujukan untuk membantu meningkatkan produktivitas, namun belakangan justru dimanfaatkan sebagian orang untuk menyalurkan keresahan batin dan perasaan pribadi.

Di balik kenyamanan yang diberikan oleh ChatGPT dalam menjawab dan mendengarkan keluh kesah pengguna, ternyata ada risiko tersembunyi yang bisa mengganggu kondisi psikologis.

Beberapa kasus di dunia memperlihatkan bahwa interaksi terlalu intens dengan chatbot bisa memicu gangguan mental, bahkan tindakan ekstrem.

Melansir CNN Indonesia, Kamis (7/8/2025), salah satu kasus terjadi pada tahun 2023 di Belgia, ketika seorang pria mengalami krisis kecemasan terhadap isu lingkungan dan intens berdialog dengan chatbot selama enam minggu.