Antropologis kebudayaan Edward Hall (Griffin, 2012) mengelompokkan gaya komunikasi dari kebudayaan kolektivistik sebagai konteks tinggi (high-context), dan gaya kebudayaan individualistis sebagai konteks rendah (low-context).
Pembagian ini didasarkan pada bagaimana orang menginterpretasikan pesan, sehingga apa yang dikatakan Effendy Gazali bisa jadi salah. Lalu apakah betul dalam penanganan COVID-19 Jokowi tetap menggunakan gaya komunikasi konteks rendah, yang mengedepankan komunikasi yang apa adanya sesuai dengan fakta di lapangan?
Sebuah pertanyaan yang perlu dijawab karena masyarakat Indonesia membutuhkan kepastian ucapan seorang pemimpin dan bukan seperti yang disebut BEM UI bahwa Jokowi ”The King Of Lip Service” yang sudah jelas lebih dominan menggunakan gaya komunikasi konteks tinggi.
Mari kita ingat, salah satu pesan yang disampaikan Jokowi pada masyarakat Indonesia adalah larangan adanya kerumunan di tengah pandemi COVID-19, namun yang terjadi saat Jokowi berkunjung ke Nusa Tenggara Timur pada Selasa, 23 Februari 2021 untuk meresmikan Bendungan Napun Gete di Kabupaten Sikka setelah meninjau area lumbung pangan di Desa Makata Keri, Kecamatan Katiku Tana, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.
Juga kunjungan kerja Jokowi ke Maumere pada hari yang sama mengundang kerumunan warga lokal tanpa saling jaga jarak berjejer di pinggir jalan menyambut Jokowi yang melintas dalam iring-iringan kendaraan.
