Dengan dibangunnya industri perikanan di Baubau yang dibiayai oleh investor asing akan dipastikan industri tersebut akan berada di bawah kendali mereka.
Ujung-ujungnya seperti yang sudah-sudah, yang terjadi di kota-kota lain di Jawa dan Sumatera, industri perikanan ini lambat laun akan menguasai hulu dan hilir bisnis perikanan di Baubau dan akan menyingkirkan para nelayan dan penjual ikan lokal karena sulitnya bersaing dengan industri besar. Bisa jadi juga akan menjadi pintu masuk tenaga kerja asing semakin membanjiri Sultra.
Lalu, saat kekayaan negeri ini dari hulu hingga hilir dikuasai oleh asing, sejatinya itu adalah kemajuan bangsa lain. Ekonomi yang kita hitung adalah ekonomi bangsa lain. Keuntungan yang kita hitung adalah keuntungan bangsa lain. Lalu kemajuan macam apa yang kita harapkan, sementara kekayaan di tanah yang kita pijak sejatinya adalah milik orang lain.
Salamuddin Daeng, Peneliti Indonesia for Global Justice mengemukakan pandangannya bahwa kita bernegara, kita berkonstitusi hanya menyediakan suatu ruang, bahkan dalam bentuk yang paling asli, kita menyediakan tanah, gedung, jalan, infrastruktur, dan segala macamnya yang ada di negeri ini, semata-mata untuk memfasilitasi bangsa lain untuk mengeruk kekayaan negara kita (muslimahnews.com, 6/3/19).
Padahal negeri ini punya modal yang begitu besar, sumber daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah adalah modal yang sangat potensial. Namun, kita ditipu oleh perhitungan modal ala kapitalisme. Seolah asinglah yang kaya padahal sejatinya kitalah yang kaya.
