YOGYAKARTA, TELISIK.ID - Menjaga kreativitas di dunia yang semakin canggih seperti sekarang ini -- salah satunya dalam bidang bisnis dan usaha -- memang sangat diperlukan. Agar bisa menghasilkan sesuatu yang menarik minat orang.
Adanya tingkat persaingan yang semakin tinggi, orang tentunya harus memikirkan apa saja yang bisa mereka jual dan menghasilkan untung besar.
Tapi, dampak pandemi COVID-19 sangat dirasakan para pelaku usaha, tak terkecuali dialami Dody Andri (28), yang omzet tas kayu Ruaya terjun bebas. Omsetnya merotot tajam.
Selama memproduksi tas premium dari kayu mindi yang diperolehnya dari Bantul, DIY, omsetnya mencapai Rp 35-40 juta per bulan dengan harga berkisar Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta. Penjualannya sampai ke luar kota dan luar negeri. Tapi setelah adanya pandemi COVID-19, produksinya menurun.
Adanya pandemi COVID-19 membuat Dody serba sulit. Sejumlah perajin yang membantunya di workshop Dusun Dadapong, Sendangsari, Pajangan, Bantul, dirumahkan. Selain itu, orang lebih memilih sesuatu yang lebih pokok dibanding kebutuhan sekunder.
