Maka harapannya agar para pengusaha dalam menyalurkan BBM bersubsidi harus sesuai mekanisme yang ada, dengan beralih ke sistem tera atau nosel.
"Saya minta waktu dua bulan, kalau tidak diindahkan, maka APMS ini terpaksa kami tutup,” tegas Bahri.
Bahri menyebut, dalam mengontrol serta memastikan pengawasan, pihaknya akan dibantu oleh Danramil Tiworo Kepulauan, Polsek Tiworo Tengah serta masyarakat, sehingga dengan cara ini dapat menekan dan mengendalikan inflasi akibat kenaikan BBM.
Baca Juga: Pasien Rujukan Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Ambulance yang Ditumpangi Tertabrak
Sementara itu, agen BBM Desa Tondasi, Aras mengakui, selama ini pihaknya menjual BBM dalam kondisi masih berbusa, di mana setiap masyarakat nelayan mendapat jatah 5-10 liter. Dikatakannya dalam sebulan BBM yang masuk sebanyak 80 liter perhari.
