Mendengar mereka menggunakan bahasa Indonesia, salah satu senior yang diketahui adalah pelaku, menghukum keduanya.

"Mereka disuruh memegang kedua pipinya dengan tangan sendiri kemudian AA menampar korban berkali-kali sampai sampai kedua pipi korban bengkak dan pipi sebelah kanan lebam berwarna biru. Setelah itu AA kembali memukul teman sekamar Alif yang lain dan pergi begitu saja," tutur Hendra sembari menunjukkan surat tanda laporannya.

Alif sempat menyembunyikan hal ini kepada keluarga lantaran takut akan kembali mendapat hukuman jika melaporkan perlakuan seniornya. Namun Alif akhirnya mengaku bila lebam di pipinya itu akibat tamparan dari seniornya.

"Jadi saat itu, dia (Alif) langsung minta keluar. Dia bilang tidak tahanmi karena ternyata budayanya disana sudah begitu kapan salah sedikit disiksa," tambahnya.

Sebelum minta keluar, pihak keluarga sempat meminta pihak Pondok untuk menyelesaikan persoalan ini secara internal. Namun pihak Pesantren membantah dan mengatakan bahwa tak ada kekerasan yang terjadi dalam Pesantren.