“Kenapa demikian? Karena jumlah pemilih pemula pada pemilu dan pemilihan cukup besar. Lalu, pemilih pemula adalah calon pemimpin masa depan dan pertama kalinya memberikan suara dalam pemilu/pemilihan, sehingga perlu diberi pemahaman yang baik tentang demokrasi,” katanya.

Selain itu, juga karena kebanyakan pemilih pemula memiliki kondisi psikologis yang labil dan mudah dipengaruhi oleh orang lain dengan informasi yang menyesatkan.

Berikutnya, pemilih pemula merupakan pemilih idealis karena belum punya beban tanggungjawab dan pemilih pemula yang menggunakan hak pilihnya memiliki kecenderungan untuk terus berpartisipasi pada momen pemilu/pemilihan selanjutnya.

Pria kelahiran Magetan ini mengatakan, acara sosialisasi dan pendidikan pemilih dapat dikatakan berhasil, bila para pelajar yang telah memiliki hak pilih ada peningkatan dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari apatis menjadi setuju dengan pemilu/pemilihan, serta mau menggunakan hak pilih dengan datang ke TPS.

Baca Juga: Pengaruh Airlangga Hartarto Kuat, Golkar Tempel Ketat PDIP jadi Parpol yang Dipilih Rakyat