Dalam wawancara dengan telisik.id, Siti Aminah berbagi cerita tentang perjuangan hidup yang ia jalani. Sambil berlinang air mata, Siti Aminah mengungkapkan bahwa ia menjadi tulang punggung keluarga.

Setiap pagi, ia bangun lebih awal untuk menyiapkan sayuran segar yang akan dijual. Setelah itu, ia meluncur menggunakan sepeda motor miliknya menuju berbagai tempat, berkeliling di sekitar kampus UHO dan kawasan Kelurahan Lepo-Lepo.

“Tiap pagi, saya berangkat jam 7. Kalau sudah habis jualannya, sekitar jam 11.30 saya berhenti untuk istirahat sebentar. Di tempat istirahat, saya makan bekal yang saya bawa. Kadang hujan, basah semua. Tapi mau gimana lagi, saya terus bertahan,” tutur Siti Aminah dengan suara bergetar.

Bagi Siti Aminah, hari-hari yang penuh hujan dan panas adalah bagian dari perjuangan hidup. Kadang-kadang ia harus memilih untuk bertahan di luar meskipun tubuhnya basah kuyup akibat guyuran hujan, karena kembali ke rumah akan menghabiskan waktu dan tenaga.

“Yang paling sedih itu saat hujan. Pagi tadi saya kering di badan, pakaian basah. Tapi, kalau pulang lagi ke rumah, saya lebih baik cari tempat istirahat. Karena kadang kalau sudah pulang, jarang balik lagi. Jadi saya teruskan saja,” kata Siti Aminah dengan mata masih berkaca-kaca.