Seluruh bahan yang digunakan dalam pembuatan Lostrick diperoleh dari limbah organik dan tidak membutuhkan dana. Yang digunakan pun didapat dari bahan alami, dan semua alat tersedia di laboratorium sekolah. Hal ini memperkuat nilai keberlanjutan dan ramah lingkungan dari produk yang mereka hasilkan.
Vina juga berharap pemerintah daerah, khususnya Pemprov Sulawesi Tenggara, bisa lebih mendukung anak-anak berprestasi dalam pengembangan inovasi lokal.
“Kalau bisa pemerintah bantu mereka. Ini bukan sekadar tugas sekolah, ini potensi besar. Kalau ada modal, produk ini bisa diproduksi massal,” tegasnya.
Ajang Color of Chemistry tahun ini menjadi saksi kebangkitan semangat inovasi di kalangan pelajar.
Melalui produk Lostrick, SMA Negeri 2 Kendari telah membuktikan bahwa dengan kreativitas, kerja keras, dan bimbingan yang tepat, anak muda mampu menciptakan solusi nyata dari masalah sehari-hari. Lebih dari sekadar menang, mereka membawa pesan: inovasi bisa dimulai dari hal sederhana, dan perubahan bisa datang dari ruang kelas. (A)
