"Kita harus menyetor sama yang punya mobil, kalau saya Rp 100 ribu, yang lain ada Rp 130 ribuan. Tergantung mobilnya, kalau bagus mobilnya tinggi setorannya," cerita Fandi sambil sesekali mangatur volume audio mobilnya.
"Akhirnya banyak mobil yang parkir karna sopir-sopir tidak maumi bawa pete-pete. Ada yang (bekerja) di tambang, ada juga yang jadi sopir Maxim," imbuhnya.
Meski demikian, masih ada mahasiswa yang masih setia menggunakan angkot. Sinta (22), seorang mahasiswa UHO, mengaku masih sering menggunakan angkot jika berpergian.
"Kalau tempat pergiku di Mandonga atau di kota lama, pasti saya naik pete-pete. Karena kan tarifnya sama, jauh dekat Rp 5.000," katanya. (B)
Penulis: Hamlin
