KENDARI, TELISIK.ID – SMPN 2 Kendari ditetapkan sebagai sekolah piloting pendidikan inklusif di Sulawesi Tenggara. Berbagai program inklusi sudah lama dijalankan, bahkan Kepala SMPN 2 Kendari, Abdul Wahid, pernah menjadi pemateri pada pelatihan Training of Trainer (TOT) di Makassar.
Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi dan penguatan penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi kepala sekolah dan guru PAUD serta SD yang digelar Rumpun Perempuan Sultra bekerja sama dengan Yayasan Bakti Jakarta, di Hotel Plaza Inn Kendari. Kegiatan ini berlangsung dua hari dengan peserta sekitar 20 lembaga pendidikan, terdiri dari 10 PAUD dan 10 SD.
Abdul Wahid mengingatkan, sejak 2014 Sulawesi Tenggara sudah dideklarasikan sebagai provinsi inklusif oleh Gubernur Nur Alam. Artinya, semua jenjang pendidikan dari PAUD hingga SMA seharusnya menerima anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun, ia menyesalkan masih ada sekolah yang menolak dengan alasan adanya SLB.
“Padahal konsep pendidikan inklusif adalah kesetaraan, hak setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Hanya saja, memang ada kriteria. Anak dengan kondisi tertentu seperti tunanetra total atau cacat mental berat yang berpotensi membahayakan siswa lain, lebih tepat diarahkan ke SLB,” jelasnya, Jumat (12/9/2025).
Di SMPN 2 Kendari, penerimaan siswa baru dilakukan dengan tes diagnostik kognitif dan non-kognitif. Melalui tes ini, sekolah bisa mengenali siswa berkebutuhan khusus, apakah masih bisa ditangani di sekolah umum atau perlu diarahkan ke SLB.
