Baca Juga: SMP Negeri 2 Kendari Perkuat Silaturahmi Melalui Maulid Nabi Muhammad SAW

Abdul Wahid juga menekankan pentingnya pemahaman guru dalam pendidikan inklusif. Menurutnya, kasus perundungan terhadap ABK seringkali justru datang dari guru, meski tanpa sengaja. Misalnya ketika siswa slow learner dicap malas atau diperlakukan dengan ekspresi yang merendahkan.

“Anak yang tidak bisa membaca bukan berarti malas, bisa jadi dia slow learner. Itu yang harus dipahami. Karena itu guru jangan sampai memberi stigma negatif,” tegasnya.

SMPN 2 Kendari telah melengkapi fasilitas inklusif dengan handrailing, toilet khusus ABK, kursi roda, hingga bantuan kacamata bagi siswa low vision. Semua pengadaan ini dibiayai dari BOS, bukan bantuan pihak luar.

“Jadi sebenarnya kuncinya ada pada komitmen kepala sekolah. Anggaran BOS bisa dikelola bertahap untuk mendukung fasilitas inklusif. Tahun ini buat handrailing, tahun depan toilet, berikutnya kursi roda. Yang penting ada penerapan nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas,” tambahnya.