Kepemimpinan Rusdin Jaya di sektor pertanian juga berlangsung ketika petani menghadapi ancaman perubahan iklim. Pada Mei 2024, tercatat sekitar 3.726 hektare lahan persawahan terdampak banjir. Dari jumlah tersebut, sekitar 772 hektare mengalami gagal panen atau puso, dengan perkiraan kehilangan produksi mencapai 3.089 ton.

Distanak kemudian mendorong percepatan panen pada lahan yang masih dapat diselamatkan, penanaman kembali serta bantuan benih bagi lahan terdampak.

Pemetaan wilayah rawan banjir dan kekeringan kemudian menjadi bagian dari langkah antisipasi agar dampak terhadap produksi dapat ditekan.

Selain mengejar produksi, penguatan ekonomi petani menjadi bagian lain dari agenda Distanak. Melalui program Rural Empowerment Agricultural Development Scaling Up Initiative (READSI), pemerintah mendorong peningkatan kapasitas petani kecil, produktivitas, akses pembiayaan serta akses pasar.

Pada 2024, pelaksanaan READSI memasuki tahun keenam dengan realisasi anggaran mencapai 90,81 persen dari total anggaran PHD sekitar Rp7,097 miliar.