Ketika remaja, sang ayah sempat mendaftarkannya ke Thawalib Sumatra yaitu sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Namun ia memutuskan pindah ke Jawa Tengah pada 1922 untuk merantau dan belajar tentang pergerakan Islam modern ke sejumlah tokoh. Salah satunya H.O.S Tjokroaminoto.
Setelah cukup lama merantau, Hamka kembali ke Padang Panjang dengan fokus mengurus Persyarikatan Muhammadiyah. Dikarenakan pada masa itu ia belum bergelar diploma, Hamka melanjutkan pendidikan bahasa Arab sekaligus belajar mengkaji lebih dalam ilmu agama Islam ke Mekkah.
Atas saran salah seorang teman dari Indonesia yang juga berada di Mekkah yaitu Agus Salim, Hamka kembali pulang ke Tanah Air untuk berkarier sebagai penulis. Disinilah nama penanya tercipta dari akronim nama panjangnya yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA).
Sepulangnya di Indonesia Hamka bekerja sebagai penulis di Majalah Pelita Andalas, Medan, Sumatra Utara. Ia pun banyak membuat karya tulisan dan artikel.
Usai menikah dengan Siti Raham, Buya Hamka aktif berkecimpung dalam kepengurusan Muhammadiyah dan menjabat sebagai ketua cabang Padang Panjang.
