Kemakmuran ini tidak hanya dinikmati oleh keluarga kesultanan. Berkat pendapatan dari migas, Brunei mampu membebaskan warganya dari pajak penghasilan, memberikan pendidikan gratis, dan subsidi bahan pangan.
Namun, seiring waktu, sektor migas tidak lagi menjadi andalan utama Brunei karena harga minyak yang tidak stabil dan penurunan produksi tahunan. Untuk mengatasi tantangan ini, Sultan Bolkiah mulai mendiversifikasi bisnis Brunei.
Salah satu langkah yang diambil adalah investasi di luar negeri melalui Brunei Investment Agency (BIA) sejak tahun 1990-an. BIA memiliki investasi di berbagai negara seperti AS, Australia, dan Eropa.
Salah satu aset BIA adalah kepemilikan hotel-hotel mewah di kota-kota besar seperti Los Angeles, London, dan Paris. Sultan Hassanal Bolkiah juga tercatat pernah berbisnis dengan Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut, putri Presiden Soeharto.
Menurut George Junus Aditjondro dalam "Korupsi Kepresidenan" (2006), Tutut terlibat dalam proyek pembangunan di Brunei pada awal 1990-an.
