Pada usia 12 tahun, Dora dikirim ke Christelijk Hogere Burger School, sebuah sekolah menengah Kristen di Utrecht.
Di sana Dora mulai menimba ilmu dan menyiapkan diri untuk pendidikan yang lebih tinggi, termasuk mempelajari ilmu keperawatan pasca bedah di universitas ternama di Belanda.
Tidak hanya belajar, Dora juga terlibat aktif dalam kegiatan kemahasiswaan Indonesia yang bersifat politis, menambah pengetahuan serta pandangannya terhadap perkembangan dunia politik Indonesia.
Di Belanda pula, Dora bertemu dengan Sumitro Djojohadikusumo, seorang ekonom dan tokoh perjuangan Indonesia yang kelak menjadi suaminya.
Pertemuan ini terjadi ketika Sumitro menjalani operasi usus besar dan Dora menjadi perawatnya. Hubungan mereka berkembang dan berakhir pada pernikahan yang berlangsung pada 7 Januari 1947.
