Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menggambarkan Marwan sebagai pemimpin penuh semangat dan tegas yang tak pernah meninggalkan tugasnya meski berada di tengah ancaman.
"Ia dikenal karena keterusterangan, spontanitas, dan kepemimpinannya yang tegas—sifat-sifat yang menghiasi rapat manajemen rumah sakit, yang sering kali diisi dengan perdebatan sengit dan selalu diakhiri dengan keakraban sambil minum kopi dan makan bersama," tulis MER-C Indonesia.
Marwan menjadi sosok sentral saat Rumah Sakit Indonesia dikepung pasukan Israel pada Desember 2024. Seluruh staf dan pasien dipaksa keluar dari rumah sakit tersebut.
Namun, saat gencatan senjata diberlakukan pada Januari 2025, ia segera kembali ke rumah sakit untuk kembali membuka layanan darurat.
Dalam periode Januari hingga Maret 2025, Al Sultan bekerja sama langsung dengan tim EMT MER-C Indonesia untuk menghidupkan kembali seluruh fungsi operasional rumah sakit.
