Dari 200 lembar yang dihasilkan, kelompoknya mampu memproduksi uang palsu senilai Rp 100 juta. Semua bahan baku untuk uang palsu ini, termasuk kertas khusus, dipesan dari China dan disimpan di gudang di lantai dua perpustakaan UIN.

Syahruna berperan sebagai operator mesin cetak, sementara tersangka lain, Ibrahim, bertugas sebagai koordinator tempat dan situasi. Pabrik uang palsu berlokasi di lantai bawah gedung perpustakaan UIN, dekat kamar mandi yang telah disekat untuk menempatkan mesin cetak. Ruangan tersebut dipasang peredam suara untuk menghindari kecurigaan.

"Dikasih peredam agar nggak kedengeran. Jendela semua ditutup," ungkap Syahruna.

Produksi uang palsu berlangsung dari pukul 11.00 siang hingga 17.00 sore. Namun, seminggu sebelum pabrik terbongkar, produksi semakin ditingkatkan. Syahruna bahkan harus bekerja lembur hingga pagi hari.

Para pelaku harus berhati-hati agar tidak menarik perhatian, terutama karena suara mesin yang dapat mencurigakan pihak keamanan kampus.