Kesalahan membaca persoalan, jelas akan menuju pada kesalahan memberikan solusi. Problem mendasar negeri ini bahkan global adalah kemiskinan dan pengangguran, jelas tidak akan selesai dengan BLT dan Magang Nasional. Selain karena BLT nominalnya kecil, juga diperuntukkan kebutuhan maksimal 3 bulan ke depan. Setelahnya bagaimana? Masih akan menjadi beban negara, sebab rakyat tetap sulit mendapatkan pekerjaan.
Apalagi jika tidak ada upaya pemerintah untuk pembangunan di aspek lainnya, semisal untuk dukungan industri lokal dengan stop kebijakan impor, selama ini guling tikarnya sektor industri kita karena tak mampu bersaing dengan produk luar negeri yang bebas pajak sebagai akibat adanya perjanjian perdagangan bebas.
Bagaimana pula pemerintah yang mendukung secara riil sektor pertanian, juga dengan menghentikan kebijakan impor, memajukan teknologi pertanian, dan jaminan setiap produknya untuk ketahanan pangan dan bukan sekadar memenuhi stok retail besar. Juga memangkas jalur distribusi lebih sederhana dengan prioritas rakyat mampu mengakses dan bukan membiarkan praktik mafia harga dan penimbunan barang beraksi.
Dan masih banyak lagi pekerjaan rumah pemerintah. Apalah artinya solusi yang bersifat praktis-pragmatis ala kapitalisme sekuler. Bahkan bisa dibilang populis, hanya meredam kegelisahan rakyat, namun soal jaminan, zonk! APBN berkali-kali terkoyak karena pembiayaan proyek ambisius dan tidak relate dengan kemaslahatan umat. Seperti misal proyek kereta cepat Whoss, program MBG yang mengalahkan anggaran pendidikan, dana reses DPR yang naik berkali-kali lipat dan lain sebagainya.
Islam Hadirkan Rekontruksi Ilahi
