Jokowi menyatakan, “Kemudian dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo. Kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo.” tutup Jokowi. Jokowi dalam pertemuan dengan pendukung partai-partai pemerintah juga turut memberikan izin terhadap wacana terbentuknya sebuah koalisi besar yang meleburkan dua koalisi yakni Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) dan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).
Presiden Jokowi saat itu berusaha melakukan tekanan kepada internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), tekanan itu berhasil Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mempercepat pengumuman capres PDIP dengan mengajukan Ganjar Pranowo ketimbang putrinya Megawati sendiri yakni Puan Maharani.
Situasi ini diyakini sudah diterka oleh Presiden Jokowi. Akhirnya, wacana koalisi besar “layu sebelum berkembang.” Hanya saja apa yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan memberi kesan mendukung terbentuknya Koalisi Besar telah menimbulkan kekisruhan.
Partai Golkar yang telah merasa jumawa karena berpikir wacana koalisi besar akan mengapungkan nama Prabowo Subianto-Airlangga Hartarto malah kecewa setelah resistensi dengan PDIP. Partai Golkar sebagai partai peringkat ketiga, sekarang ini dalam posisi terombang-ambing tidak di Koalisi Indonesia Besar (KIB) juga tidak jelas akan menuju pada KKIR atau Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), meski kecenderungan terbesar menuju KKIR.
Memang Jokowi dari awalnya diyakini tidak benar-benar ingin mewujudkan koalisi besar. Wacana koalisi besar pada dasarnya hanya upaya dirinya menekan Megawati selaku Ketua Umum PDIP untuk mengusung Ganjar Pranowo yang didukung oleh Presiden Jokowi.
