Sekali waktu, jika rezeki berpihak, Arifuddin bisa mengumpulkan hingga satu atau dua ton kardus, dengan harga Rp 1.500 per kilogram. Ia pun bisa memperoleh Rp 1.500.000 sampai Rp 3.000.000 sebulan. Tapi itu belum sepenuhnya menjadi miliknya.
“Uangnya dibagi-bagi lagi. Kita ini kan menampung dulu, baru usaha. Makan juga dari utang. Nanti sudah dijual baru dibayar. Beras, ikan, semua diutang dulu,” tuturnya.
Arifuddin tinggal bersama istri dan delapan dari sepuluh anaknya. Dua lainnya telah berkeluarga. Ia mengaku sudah lima tahun menekuni pekerjaan sebagai pemulung.
Sebelumnya, ia menarik becak, namun becaknya kini hanya tinggal kenangan, rusak dan tak bisa diperbaiki lagi.
“Kadang tiap hari turun, kadang istirahat juga kalau capek,” katanya, sambil mengusap keringat.
